Tentang Seorang Gadis dan Sebuah Nama

28 September 2020

Linali tan bisa lali

Suwe-suwe saya nglela

Katon wae sak solahe

Gembili gun woh ing tawang

Gedebugan ra geng wang

Jenang sela reca kayu

Mblanjet nggoleki sira


Tentang Seorang Gadis dan Sebuah Nama

Tiba-tiba saja aku menyadari diriku ada di suatu tempat. Seperti di sebuah pedesaan dan banyak sekali orang berlalu-lalang. Gaya berpakaian mereka sangat kuno. Ada yang memanggul lusinan tembikar, menarik pedati, bercengkrama, aku seperti berada di masa lalu suatu tempat yang entah dimana.


Seorang gadis berkebaya merah menghampiriku. Dia terlihat seumuran denganku yang masih 19 tahun. Entah kenapa aku seperti sudah mengenalnya sangat lama sehingga tak terlintas di benakku untuk berkenalan. Bibirnya merah merona seperti kebaya yang dia kenakan. Rambutnya hitam panjang terurai.


Gadis itu menggandeng tanganku dan kami berjalan bersama menuju sebuah sungai yang tidak jauh dari tempat itu. Yang jelas air sungainya sangat jernih dan dangkal. Banyak batu-batu besar di tengah sungai itu.


Kami berdua duduk di sebuah batu di tepi sungai. Terlihat di hadapan kami pemandangan sawah yang sangat luas dan hijau di seberang sungai. Dari kejauhan, seorang pria tua duduk dibawah pohon kenari sambil menghisap pipa cerutu, dan seorang pria muda di sebelahnya sedang memainkan seruling. Bahkan meskipun terlihat cukup jauh, permainan serulingnya yang indah terdengar begitu jelas di telingaku meskipun lirih.


Gadis itu bersandar di pundakku. Dia sangat harum seperti wangi bunga-bunga yang tidak bisa kujelaskan bunga apa saja itu. Aku benar-benar sangat merasa nyaman. Tenang, senang, dan bahagia. Seperti perasaan bertemu kembali dengan kekasih yang telah lama terpisah. Entah kenapa.


Cukup lama hingga suara seruling terhenti, gadis itu berdiri dan kembali menggandeng tanganku.

“Ayo, sudah waktunya.” Begitu katanya.


Kami kembali berjalan ke suatu tempat. Aku hanya mengikuti kemana ia pergi. Gadis itu menengok ke arahku sambil tersenyum saat kami berjalan melewati kerumunan sebuah pagelaran wayang kulit. Namun disitu kami tidak berhenti, hingga kami sampai di sebuah rumah.

Meskipun cukup besar, rumah itu terlihat seperti rumah sederhana yang dindingnya terbuat dari anyaman bambu. Gadis itu melepaskan tanganku dan melangkah masuk ke dalam rumah.

“Sampai jumpa.” Ucapnya.

Aku tidak tahu harus berbuat apa. Pikiranku mulai sedikit waras untuk menyadari posisiku yang berada di tempat asing. Saat hendak memanggil namanya, aku juga baru menyadari bahwa aku tidak bisa menyebut namanya. Karena melihat pintu rumah yang menyisakan sedikit celah terbuka, aku memutuskan untuk masuk menyusulnya.


Di dalam rumah itu nyaris gelap gulita, dan aku tidak mendapati seorang pun didalamnya. Aku pikir gadis itu ada di dalam salah satu ruangan. Namun aku tidak menemukannya dimanapun. Diriku mulai panik. Tapi bukan karena takut. Diriku merasa tidak ingin kehilangan gadis itu dan aku harus menemukannya.

Di ruangan terakhir yang paling belakang di dalam rumah itu, aku melihat sebuah buku dan beberapa lembar kertas tergeletak di meja. Buku itu berisi catatan yang ditulis dengan aksara jawa yang sulit kubaca. Berbeda dengan lembaran kertas di sampingnya yang bertulisan latin. Namun sialnya aku tidak mengerti bahasa belanda. Satu-satunya yang bisa aku baca hanyalah angka tahun di salah satu kertas itu.

“1924”


Logikaku benar-benar bekerja mendapati situasi ganjil itu. Aku bergegas keluar dari rumah. Sayangnya yang kudapati adalah pemandangan yang sangat mengerikan. Rumah-rumah terbakar, mayat bergelimpangan di tengah jalan. Orang-orang yang masih hidup berlarian seperti tengah terjadi kerusuhan, atau peperangan.


Aku terjatuh saat mencoba berlari seperti tertabrak seseorang. Pandangan mendadak gelap, dan telinga berdengung. Suara-suara perlahan hilang.


Ketika pandanganku kembali, yang terlihat adalah langit-langit kamar. Nafasku terengah-engah, dan bajuku basah oleh keringat. Aku terduduk di tempat tidur setelah kesadaranku pulih sepenuhnya. Aku merasa lega baru keluar dari mimpi. Meskipun aku sedikit penasaran dengan kelanjutan mimpi itu. Terutama sosok gadis yang masih terbayang-bayang. Beberapa saat kemudian, pendengaranku juga kembali normal. Namun sesaat setelah dengung di telinga ku menghilang, secara jelas aku mendengarkan suara gadis berbisik.

“Lintang.”


Aku melihat jam dinding menunjukan pukul 00.01. Kutarik kembali selimutku sambil memejamkan mata. Berharap aku bisa tidur lagi dengan mimpi yang lain.